Sabtu, 27 Januari 2018

Rindu


Gelapnya malam
Hilang sudah cahaya bulan
Serasa jiwa amat terluka
Bagai langit yang meratap sendu
Tak ada satu pun sinar yang datang untuk menerangi
Namun sakit selalu datang tanpa permisi
Merobek jiwa yang sepi

Dalam tiap malam kuterdiam menatap langit
Terlintas bayanganmu didalam fikiranku
Selalu kubertanya pada alam
Mengapa aku begini ?
Apakah ini hanya perasaanku sesaat
Atau karena otak ini sudah penat

Langit kini telah meredup
Bulan pun perlahan menghilang
Mimpiku kini sudah tidak indah lagi
Hilang didalam kegelapan
Dan tak menyisakan sedikitpun kenangan

Detik jam terdengar begitu kencang ditelinga
Suara gemuruh angin begitu deras menghujamku
Saat ku berusaha untuk bangkit melawan
Ada seutas jarum yang menusuk jiwa ku

Lelah kaki ini mengikuti langkahmu
Hingga kini telah berhenti diujung waktu
Jarak yang tidak pernah ada
 Namun sekarang terlihat amat jelas
Semakin jauh kian langkahmu
Semakin pudar cahayamu

Tidak mudah untuk memahami isi hatinya
Begitu keras bagai batu karang
Juga teramat lembut seperti kain sutra
Hitam putih warna hatinya
Tegas dan tegar
Kadang tak berperasaan
Kadang pula teramat baik dalam memberi harapan



Wahai gadis periang yang penuh semangat
Matanya yang selalu berbinar
Membuat kerinduan ini semakin mendalam
Hangat peluknya masih terasa dibenakku
Namun kini semuanya lenyap karena kesalahanku


Maafkan aku………………….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu

Gelapnya malam Hilang sudah cahaya bulan Serasa jiwa amat terluka Bagai langit yang meratap sendu Tak ada satu pun sinar yang dat...